ARTIKEL
Sejarah Desa
Desa Kemranggon merupakan salah satu desa yang memiliki latar belakang sejarah panjang dan menarik di wilayah Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Sejarah desa ini tidak hanya menyimpan kisah tentang asal-usul nama dan pendirian desa, tetapi juga mencerminkan perjalanan masyarakatnya dalam membentuk kehidupan sosial, budaya, dan pemerintahan yang ada hingga saat ini.
Asal Usul Nama “Kemranggon”
Nama “Kemranggon” dipercaya berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yaitu “mranggon” atau “mranggon-mranggoni,” yang berarti tempat berteduh atau tempat persinggahan. Menurut cerita turun-temurun dari para sesepuh desa, dahulu kala kawasan yang sekarang menjadi Desa Kemranggon merupakan hutan belantara yang sering dijadikan tempat singgah oleh para pelancong, pelarian, atau bahkan prajurit kerajaan pada masa peperangan.
Wilayah ini banyak ditumbuhi pohon-pohon besar yang rindang, sehingga menjadi tempat nyaman untuk berteduh. Dari situlah muncul istilah "mranggon," dan seiring waktu berubah menjadi "Kemranggon" sebagai nama resmi wilayah desa tersebut.
Legenda dan Cerita Rakyat
Sejarah lisan dari para orang tua dan tokoh adat menyebutkan bahwa Desa Kemranggon didirikan oleh seorang tokoh spiritual atau pemuka adat yang dikenal dengan sebutan Mbah Wiradikrama. Beliau diyakini sebagai tokoh pertama yang membuka hutan belantara di wilayah tersebut dan menetap bersama beberapa pengikutnya. Mereka kemudian mengolah lahan, membuat pemukiman, dan membangun tempat ibadah sederhana sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.
Mbah Wiradikrama juga dikenal sebagai sosok bijaksana dan disegani. Banyak nilai-nilai moral dan aturan adat yang masih dipegang hingga sekarang berasal dari ajaran dan petuah beliau. Makam tokoh ini dipercaya berada di salah satu bagian desa dan sering diziarahi warga setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Masa Penjajahan
Pada masa penjajahan Belanda, Desa Kemranggon tidak luput dari pengaruh sistem kolonial. Warga desa saat itu hidup dalam tekanan pajak dan kerja paksa yang diberlakukan pemerintah kolonial. Banyak warga yang ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan secara diam-diam, seperti menjadi kurir, menyembunyikan pejuang, atau memberikan bantuan logistik.
Selama masa penjajahan Jepang, kondisi kehidupan masyarakat semakin sulit. Penderitaan akibat kekurangan makanan dan pengawasan ketat dari tentara Jepang menjadi kisah pilu yang masih dikenang oleh para orang tua di desa.
Masa Kemerdekaan dan Pembentukan Pemerintahan Desa
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Desa Kemranggon secara resmi diakui sebagai salah satu desa dalam wilayah administratif Kecamatan Susukan. Pemerintahan desa mulai dibentuk dengan sistem kepala desa yang dipilih langsung oleh masyarakat.
Kepala desa pertama yang menjabat pasca-kemerdekaan dikenal sebagai sosok sederhana yang memimpin dengan semangat kebersamaan dan gotong royong. Pada masa awal pemerintahan ini, pembangunan desa masih sangat terbatas. Jalan masih berupa tanah, belum ada penerangan listrik, dan layanan pendidikan serta kesehatan masih minim. Namun, berkat kerja keras bersama, pembangunan pun mulai berjalan meski perlahan.
Perkembangan Sosial dan Budaya
Seiring berjalannya waktu, masyarakat Desa Kemranggon mulai menata kehidupan sosial dan budaya mereka dengan lebih terorganisir. Tradisi dan adat istiadat warisan leluhur tetap dijaga dengan baik. Upacara tradisional seperti sedekah bumi, bersih desa, dan kenduri menjadi bagian penting dari identitas budaya desa.
Kesenian tradisional seperti wayang kulit, rebana, dan kuda lumping juga sempat berjaya dan menjadi hiburan masyarakat desa. Banyak generasi muda saat itu yang dilatih untuk melestarikan kesenian sebagai bagian dari identitas lokal.
Pembangunan dan Modernisasi
Memasuki era Orde Baru dan Reformasi, Desa Kemranggon mulai mendapatkan akses terhadap program-program pembangunan dari pemerintah pusat dan daerah. Jalan desa mulai diperkeras, sekolah dibangun, fasilitas kesehatan didirikan, dan jaringan listrik masuk ke desa.
Perubahan besar terjadi ketika alokasi Dana Desa mulai diberikan secara langsung. Pemerintah Desa Kemranggon memanfaatkan dana tersebut untuk membangun infrastruktur, meningkatkan layanan publik, serta memberdayakan masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan kelompok tani, PKK, dan karang taruna.
Selain pembangunan fisik, pembangunan mental dan karakter warga juga terus didorong. Pemerintah desa secara aktif mengadakan kegiatan keagamaan, penyuluhan, serta program peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu menghadapi tantangan zaman modern.
Warisan Sejarah yang Dijaga
Meskipun kemajuan zaman terus berjalan, masyarakat Desa Kemranggon tetap berkomitmen menjaga warisan sejarah mereka. Tempat-tempat bersejarah seperti petilasan leluhur, makam pendiri desa, serta situs-situs alam yang dipercaya memiliki nilai spiritual tetap dirawat dan dijaga kelestariannya.
Setiap tahun, kegiatan ziarah, doa bersama, dan peringatan hari berdirinya desa diadakan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu. Kegiatan ini juga menjadi momen pengingat bahwa apa yang dimiliki desa hari ini adalah hasil dari perjuangan panjang dan kerja keras dari generasi sebelumnya.
Penutup
Sejarah Desa Kemranggon adalah cermin perjalanan panjang dari sebuah komunitas kecil yang berkembang menjadi masyarakat yang berdaya dan mandiri. Dari asal-usul yang penuh legenda, masa penjajahan yang penuh tantangan, hingga era modern yang penuh harapan, semua menjadi bagian penting dalam identitas Desa Kemranggon.
Melalui pelestarian nilai-nilai sejarah, budaya, dan tradisi yang diwariskan, Desa Kemranggon tidak hanya sekadar membangun secara fisik, tetapi juga membangun karakter dan jati diri sebagai desa yang kuat, mandiri, dan penuh semangat gotong royong. Semoga sejarah ini menjadi pijakan untuk terus melangkah maju dalam menghadapi masa depan yang lebih baik.
Artikel saat ini masih dalam tahap pengembangan. Artikel ini hanya sebagai contoh. Informasi akan terus diperbarui seiring dengan proses pendataan dan verifikasi dari berbagai sumber resmi.